



Kegiatan magang di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Lampung. Kegiatan diawali dengan melakukan presentasi proposal magang di Kantor Balai TNWK dan dilanjutkan dengan pengenalan lingkungan kerja, khususnya di Rumah Sakit Gajah (RSG) dan Pusat Lektur Gajah (PLG). Rumah Sakit Gajah merupakan sebuah rumah sakit gajah pertama yang ada di Asia yang diberi nama Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. H. Rubiat Atmawidjaja. Kegiatan magang ini mendukung implementasi SDGs poin 4 (Quality Education) melalui peningkatan kompetensi mahasiswa di bidang kesehatan satwa liar, serta SDGs poin 15 (Life on Land) yang berfokus pada perlindungan dan pelestarian ekosistem daratan serta keanekaragaman hayati.
Pemeliharaan harian gajah meliputi kegiatan pagi memandikan gajah di kolam pemandian serta pemberian air minum. Gajah dimandikan dengan cara disikat seluruh badan mulai dari belalai hingga ekor dan dibilas menggunakan air. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan gajah sebelum diangon (digembalakan) ,sekaligus menghilangkan ektoparasit yang menempel pada tubuh gajah, kemudian diangon ke area yang kaya akan sumber pakan alami seperti rumput, dedaunan, dan akar-akaran atau pada umumnya diangon di kawasan hutan atau rawa yang masih tersedia vegetasi yang melimpah. Sore hari, gajah diambil oleh pawang, lalu dimandikan kembali, diberi minum, dan dikembalikan ke kandang, lalu diberi pakan tambahan berupa tebon, pelepah, pisang, dan jenis hijauan lainnya dengan total sekitar 90 kg per ekor per hari. Gajah Sumatera di PLG memperoleh tiga jenis pakan, yaitu hijauan alami yang didapat melalui penggembalaan, pakan tambahan dari kebun pakan, serta suplemen yang diberikan oleh mahout. Pakan hijauan alami yang sering dimakan gajah di lokasi penggembalaan rumput gajah mini, putri malu, dan harendong (Panjaitan dkk., 2023), serta diberikan pakan tambahan berupa sayuran, seperti kacang panjang dan buah, seperti pisang, nanas, dan tebu (Setiawan dkk., 2024). Kegiatan pemeliharaan ini selaras dengan SDGs poin 15 (Life on Land) karena mendukung upaya konservasi satwa liar secara berkelanjutan, serta SDGs poin 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengelolaan pakan yang mencukupi kebutuhan hewan dan pemanfaatan sumber daya alam secara bijak dalam mendukung kelangsungan hidup satwa konservasi.
Selain kegiatan pemeliharaan dan pemberian pakan, dilakukan juga penanganan kesehatan gajah, antara lain penanganan gajah Joni yang mengalami penurunan nafsu makan dengan disertai frekuensi defekasi yang meningkat dan konsisensi feses yang cair. Gajah Joni kemudian dibawa dari PLG menuju RSG untuk mendapatkan pengobatan dari dokter hewan dengan ditemani tiga pawang serta satu paramedik. Pengobatan yang dilakukan meliputi pemberian obat antidiare, antiradang, dan antibiotik secara berkala. Pemberian obat antidiare dilakukan secara oral, sedangkan pemberian antiradang dan antibiotik dilakukan secara parenteral. Salah satu cara untuk diagnosis penyakit cacingan adalah dengan melakukan pemeriksaan sampel feses. Pemeriksaan terhadap sampel feses gajah Joni dilakukan dengan menggunakan metode natif kemudian diamati di bawah mikroskop pada perbesaran 10x hingga 40x. Pada 14 sampel yang telah diperiksa, ditemukan telur cacing jenis Pharampistomum sp. dan juga Strongyle yang memang biasa ada di saluran pencernaan hewan herbivora, serta dilakukan empat kali pengulangan (Herdaus dkk., 2015). Pemeriksaan saluran pencernaan terhadap gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di konservasi TNWK dapat diidentifikasi melalui feses (Suwandi dkk., 2023). Kegiatan tersebut mendukung SDGs poin 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan standar kesehatan, serta SDGs poin 15 (Life on Land) dalam menjaga keberlanjutan populasi gajah dan keseimbangan ekosistem daratan.
Penyakit paling umum yang terjadi pada gajah adalah diare, salah satu penyebab diare adalah adanya perubahan cuaca dari kemarau ke penghujan yang menjadikan infestasi cacing menjadi meningkat karena kelembapan yang tinggi. Tiga hari setelah pengobatan, gajah Joni mulai menunjukkan perkembangan yang baik, dan perlahan sembuh. Kegiatan ini sejalan dengan SDGs poin 3 (Good Health and Well-being) dalam konteks kesehatan hewan sebagai bagian dari pendekatan One Health, serta mendukung SDGs poin 15 (Life on Land) melalui perlindungan terhadap satwa konservasi agar tetap sehat dan produktif dalam ekosistemnya.
Pembuatan suplemen gajah dibuat dengan beberapa bahan seperti kacang hijau, jagung giling, beras, gula jawa, dan dedak yang direbus hingga semua bahan lunak dan tercampur merata. Suplemen diberikan pada setiap gajah dan pemberian suplemen dilakukan sebanyak 34 kali dalam satu tahun. Suplemen diberikan sebanyak 6,18 kg per ekor gajah yang terdiri dari beras 1 kg, kacang hijau 1 kg, gula merah 1 kg, jagung 1 kg, garam 0,18 kg, dan dedak 2 kg, dengan pemberian dedak perlu dibatasi tidak melebihi 5 kg karena kandungan nutrisinya yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Jagung bermanfaat untuk mendukung kesehatan terutama pada gajah sakit, dalam pemulihan, berusia tua, dan menyusui (Panjaitan dkk., 2023). Kegiatan ini mendukung SDGs poin 2 (Zero Hunger) dalam hal pemenuhan nutrisi yang memadai bagi makhluk hidup, serta SDGs poin 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengelolaan bahan pakan yang efisien dan terencana bagi hewan.
Penulis:
Ririn Nur Afifah
Tsalaitsa Auradiva Ashadia
Referensi:
Anonim. 2026. Department of Economic and Social Affairs Sustainable Development. The 17 Goals. https://sdgs.un.org/goals. (diakses 3 April 2026).
Herdaus, D. D., Rosa, E., dan Rustiati, E. L. 2015. Identifikasi Dan Prevalensi Protozoa Parasitik Pada Sampel Feses Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) di Pusat Konservasi Gajah, Taman Nasional Way Kambas. Prosiding Seminar Nasional Swasembada Pangan. 1(1): 576-581.
Panjaitan, T. C., Harianto, S. P., Setiawan, A., dan Winarno, G. D. 2023. Pengelolaan pakan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas, Lampung, Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Masy Bio. 9(1): 113-117.
Setiawan, M. F., Fitriana, Y. R., Krismurniati, E. D., dan Winarno, G. D. 2024. Mekanisme
emberian Pakan Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumateranus) Jinak di Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas. Bioprospek. 16(1): 10-14.
Suwandi, A. H. R. L., Putri, N. N., dan Afryansyah. 2023. Uji Sentrifus dan Sedimentasi Tingkat Prevalensi Parasit Gastrointestinal Feses Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) Konservasi Eksitu Taman Nasional Way Kambas. Jurnal Penelitian Sains. 25(2): 163-168.