

Kabupaten Dompu terletak di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Dompu diketahui merupakan salah satu wilayah dengan sistem peternakan sapi potong yang dilakukan secara ekstensif. Sistem pemeliharaan ternak secara ekstensif dilakukan dengan cara melepaskan ternak di lahan penggembalaan selama periode pemeliharaan, pakan bergantung kondisi alam dan musim, serta minim intervensi terhadap ternak (Hilmiati et al., 2019). Mayoritas peternak di Dompu melakukan kegiatan pemeliharaan ternak secara tradisional dengan cara menggembalakan ternak di padang umbaran atau di lahan pribadi, serta mengintegrasikan crop cow dengan memanfaatkan limbah pertanian (jagung, kacang hijau, padi). Pemerintah daerah melalui Dinas Peternakan juga terus mendukung sektor peternakan dan kesehatan hewan di Dompu melalui program khusus yaitu vaksinasi ternak rutin per tahun dan registrasi ternak.
Populasi sapi potong di Dompu tercatat sekitar 188rb ekor dan terus berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan sapi potong ke luar Pulau Sumbawa. Dompu dalam sepuluh tahun terakhir tercatat sebagai produsen sapi potong untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di luar pulau, terutama ke Jawa (Muktazam et al ., 2022). Sistem produksi ternak di Dompu ikut mendukung pencapaian beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam poin tanpa kelaparan (2), pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (8), dan konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (12).
Meskipun memiliki kelebihan, sistem ekstensif di Dompu memiliki tantangan yang dapat memengaruhi produktivitas dan keberlanjutan sistem tersebut. Degradasi padang penggembalaan akibat pemanfaatan berlebih juga menjadi ancaman serius terhadap keberlanjutan sistem tersebut. Produktivitas ternak secara efisien dan ramah lingkungan di sistem ekstensif dapat ditingkatkan, diantaranya melalui perbaikan nutrien pakan, manajemen perkawinan dan kontrol kesehatan ternak. Perbaikan nutrien ternak, salah satunya dapat dilakukan dengan pemanfaatan legum yang diperoleh secara liar atau dibudidayakan dan disesuaikan dengan kondisi agroklimat, serta peningkatan nilai tambah nutrien limbah pertanian. Selain itu, kegiatan pembibitan sapi pada sistem ekstensif yang mengandalkan sistem kawin alam perlu untuk dikontrol agar ketersediaan sapi pejantan selalu ada. Minat peternak yang tinggi untuk menggemukkan sapi jantan dari hasil pembibitan secara tidak langsung akan memengaruhi ketersediaan jumlah pejantan di lahan penggembalaan, sehingga perlu dilakukan kontrol populasi pejantan atau pengaplikasian inseminasi buatan (IB) jika diperlukan. Selain itu, peternak perlu untuk mempertimbangkan jenis bibit ternak yang dipilih untuk IB. Bibit ternak untuk IB sebaiknya dipilih yang tahan terhadap kondisi lingkungan yang kering dengan musim kemarau yang panjang, tahan dengan kualitas pakan rendah dan menyesuikan kemampuan peternak untuk memelihara ternak. Lebih lanjut, kontrol kesehata rutin ternak perlu dilakukan, minimal dalam hal pemeriksaan kondisi kesehatan dan pemberian obat cacing rutin.