Yogyakarta, UGM – Program Studi Teknologi Veteriner, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) terus memperkuat komitmennya dalam pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) melalui penerapan prinsip Good Laboratory Practice (GLP) di lingkungan laboratorium.
Pengelolaan limbah B3 menjadi aspek penting dalam kegiatan praktikum dan penelitian di bidang teknologi veteriner yang berkaitan erat dengan penggunaan bahan biologis, kimia, serta peralatan laboratorium. Oleh karena itu, Prodi Teknologi Veteriner telah menerapkan sistem pemilahan limbah secara terstruktur sebagai upaya menjaga keselamatan kerja serta mencegah dampak negatif terhadap lingkungan. Pemilahan dilakukan berdasarkan kategori, antara lain limbah plastik (microtip, spuit, botol infus, falcon tube), limbah bahan karet (gloves, infus set, tutup vacuum tube), limbah kaca, limbah non-infeksius, limbah infeksius, limbah benda tajam, serta sisa media yang telah disterilisasi. Sistem pemilahan ini dilakukan sejak tahap awal penanganan limbah, termasuk penggunaan wadah khusus yang telah disediakan di laboratorium. Limbah yang masih berada dalam kantong sementara diwajibkan untuk dipindahkan ke tempat penampungan sesuai kategori sebelum proses pengolahan lebih lanjut.
Koordinasi pengelolaan limbah dilakukan secara sistematis, di mana seluruh peneliti, dosen, laboran, asisten praktikum, dan mahasiswa diwajibkan untuk memilah limbah sesuai dengan jenisnya setelah kegiatan laboratorium berlangsung. Proses ini tidak hanya menjadi bagian dari prosedur operasional standar, tetapi juga terintegrasi dalam proses pembelajaran melalui mata kuliah Good Laboratory Practice (GLP). Dalam praktikum tersebut, mahasiswa dibekali pemahaman dan keterampilan terkait standar keselamatan kerja di laboratorium, termasuk tata cara penanganan dan pengelolaan limbah B3 yang benar. Selain itu, mahasiswa dilatih untuk mengidentifikasi jenis limbah, melakukan pemilahan sesuai klasifikasi, serta memahami risiko yang ditimbulkan apabila limbah tidak dikelola dengan baik. Pembelajaran ini menjadi penting untuk membentuk budaya kerja laboratorium yang aman, tertib, dan bertanggung jawab.
Dalam pengelolaan limbah infeksius, Prodi Tekvet juga menjalin kerja sama dengan PT. Prima Higina Sarana sebagai pihak ketiga yang berwenang dalam pengangkutan dan pemusnahan limbah infeksius. Kerja sama ini memastikan bahwa limbah infeksius yang dihasilkan dari kegiatan laboratorium dikelola sesuai dengan standar dan regulasi yang berlaku, sehingga meminimalkan risiko pencemaran lingkungan dan bahaya kesehatan.


Penerapan pengelolaan limbah berbasis GLP ini juga sejalan dengan upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) dalam menjaga kesehatan dan keselamatan, SDG 6 (Clean Water and Sanitation) melalui pencegahan pencemaran, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengelolaan limbah yang berkelanjutan.
Dengan adanya integrasi antara praktek lapangan, pembelajaran di kelas, serta dukungan kerja sama dengan pihak eksternal, Prodi Teknologi Veteriner SV UGM tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi terhadap aspek keselamatan dan keberlanjutan lingkungan. Ke depan, praktik pengelolaan limbah B3 ini diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari best practice dalam pengelolaan laboratorium pendidikan.
Penulis : AF